Well its not a big deal for us to talk about it, karena memang gw paling sering ber-argumen dgn sahabat dekat saya ini. Diawali dengan kejadian terorisme yang terjadi di Hamparan Perak, hingga secara ga langsung terucap sebuah kalimat dari sahabat saya "itukan berawal dari mendalami Islam, kemudian berubah menjadi fanatik".
mungkin secara harfiah kalimat itu mengandung makna "teror itu berawal dari Islam". Hmmm, what should i say then, sebuah hal yang terjadi yang diakibatkan oleh terminologi "terorisme" mungkin memang dikaitkan erat dengan Islam, tapi apakah semua orang melihat sesuatu yang bermakna positif dibalik tindakan'' mereka yang termasuk frontal?
Makna positif mungkin terlihat sangat minimalis disini, mengingat tindakan "terorisme" sangat tidak-mengenakkan. Mulai dari pembunuhan hingga penghancuran. OKay, sebagai muslim gw ngerasa itu sebagai hal yang kurang bermoril, karena gw yakin Islam mengajarkan perdamaian dan rasa menghormati. Terlepas dari itu, mungkin memang ada beberapa elemen masyarakat yang -mungkin- menyalahartikan hal tersebut.
Balik ke diskusi gw dan sahabat, sahabat gw terus memberikan argumen tentang ide pikirannya tentang sebuah rantai masalah Islam-fanatik=terorisme. Ketika gw memberikan pendapat dan fakta mengenai "keyakinan" yang dipeluknya beserta beberapa masalah yang terdapat didalamnya, teman gw hanya memberikan satu statement yang lumayan ngebuat gw tersenyum hitam (gmn senyum hitam ya?), "YAH ITU GA TAU LAH YA".
Mungkin sebuah nilai logika itu bisa pudar seketika pada sebuah pembicaraan ttg "keyakinan" yang kita peluk. Dalam kehidupan ini, kita selalu mengatakan bahwa sebenarnya agama yang kita peluk adalah sebuah agama bawaan dari orang tua kita, bener banget, dan itu berhasil mengakar didalam diri kita sebagai individu yang bebas.
Sehingga apapun argumen buruk ttg apa yang kita percayai maka kita akan berusaha memberikan argumen balik untuk mempertahankan apa yang kita anggap benar,.